Bab II
Pengertian arkeologi
Arkeologi, berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti "kuna" dan logos, "ilmu". Nama alternatif arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan material. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi) dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil) maupun fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs arkeologi).. Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (ekskavasi) arkeologis, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar. Selain itu observasi, deskripsi, ekspelerasi itu merupakan tahap dari methode arkeologi. Inilah bebrapa methode dari arkeologi diantaranya:[1]
1. Observasi
Observasi adalah tahap pertama dalam metode Arkeologi. Tahap ini adalah tahap untuk mengumpulkan data arkeologi yang terdiri dari data kepustakaan dan data lapangan. Data kepustakaan dapat diperoleh dari berbagai seumber tertulis seperti buku, gambar, foto, peta. Data lapangan diperoleh dari penjajagan atau pengamatan tinggalan arkeologi di situs tersebut dan survei berupa pengamatan yang disertai analisis mendalam. Pengumpulan data juga bisa dilakukan dengan eskavasi yaitu penggalian tanah yang dilakukan secara sistematik untuk menemukan temuan arkeologi.[2]
Tahap pertama ini bisa kita terapkan pada situs masjid panjunan sebagai berikut :
Langkah pertama sebelum kita menuju ke lokasi situs, kita harus melakukan studi kepustakaan terlebih dahulu. Hal tersebut dimaksudkan supaya kita mengenali dan memahami masjid panjunan berdasarkan temuan orang lain sehingga kita mengetahui harus berbuat apa terhadap masjid panjunan.[3]
Langkah kedua, jika data kepustakaan telah terkumpul dan kita mendapatkan gambaran mengenai masjid panjunan. Langkah selanjutnya adalah melakukan penjajagkan yang juga bisa disertai survei. Kita mengamati masjid panjunan secara langsung dan mulai menyusun langkah berikutnya. Survei bisa dilakukan dengan cara mewawancari penduduk sekitar yang mau dan mampu menjelaskan mengenai masjid panjunan atau kalau bisa juru kuncen dari masjid panjunan itu, sebagai langkah awal penelitian arkeologi. Terutama untuk menentukan tempat melakukan eskavasi, jika diperlukan.
Langkah terakhir dalam pengumpulan data adalah melakukan eskavasi. Setelah kita mengumpulkan data kepustakaan, data di lapangan yang terlihat, kita juga perlu melakukan penggalian situs untuk mencari tinggalan arkeologi yang masih berada di dalam tanah di situs masjid panjunan. Jika di perlukan Eskavasi sangat menunjang penelitian terhadap sebuah situs yang telah hancur dan kemungkinan besar terdapat peninggalan arkeologi yang tertimbun oleh tanah.
2. Deskripsi
Setelah data terkumpul, kita harus menguraikan data-data tersebut sehingga mendapat gambaran dan penjelasan mengenai data-data yang telah terkumpul..
Penerapannya dalam situs masjid panjunan adalah :
1. Analisis Arsitektur
Analisis aristektur dapat dibagi lagi menjadi 4 bagian, yaitu :
a. Analisis Morfologi
Bagian ini terlihat dari fisik masjid panjunan yang di dominasi oleh warna merah,serta berdenah bujur sangkar, di pengaruhi oleh gaya hindu budha pada gapuranya, terdiri dari empat soko guru yang berbentuk segi empat,dinding – dindingnya yang di hiasi keramik –keramik dari berbagai unsur yang mewakil dari suatu negara, genteng yang terbuat dari sirap.[4]
b. Analisis Teknologi
Bagian yang perlu diamati pada masjid panjunan yaitu pada dinding yang terbuat dari bata, serta saka guru yang terbuat dari kayu,tempat wudhu yang dulu menggunakan sumur di ganti dengan keran, genteng yang terbuat dari sirap,
c. Analisis Gaya
Akulturasi budaya pada masjid panjunan ini di pengaruhi oleh berbagai macam, salah satunya gapura dari masjid panjunan yang di pengaruhi oleh hindu budha, keramik-keramik atau porselin yang di pengaruhi oleh gaya cina atau tionkok, bukan hanya itu masjid merah panjunan pun di pengaruhi oleh unsur islami yaitu pada fungsi masjid itu,unsur jawa pun menghiasi masjid ini yang terdapat pada tajug dan limasan masjid ini.
d. Analisis Kontekstual
Masjid panjunan ini terdiri dari sebagai berikut:
1. Berdenah bujursangkar
2. Dua gapura
3. Empat soko guru
4. Dinding yang terdapat keramik
5. Genteng dari sirap
6. Terdapat makam di samping kiri masjid
7. Bedung di sebelah kiri
8. Tempat wudhu di sebelah kanan
9. Mimbar yang di tutup kain putih[5]
10. Terdapat limasan di atas gentin
E. Analisi keramik
Porselin dan bahan batuan sangat jelas bukan buatan lokal . Selama ini barang-barang seperti itu telah ditemukan di berbagai situs di Indonesia, dan diketahui berasal dari berbagai negara seperti Tiongkok, Asia Tenggara (Thailand, Vietnam, dan Kamboja), Timur Tengah, Jepang, dan Eropa (seperti Belanda dan Jerman ).
Dia antara negara-negara penghasil keramik tersebut, keramik Tiongkok merupakan temuan yang paling banyak. Keramik jenis ini telah diproduksi di tempat asalnya lalu dipasarkan di berbagai belahan dunia, menggunakan angkutan tertentu melintasi daratan a tau lautan, kata ahli identifikasi keramik, Widiati, yang kini Kepala Subdit Pengendalian Pemanfaatan pada Direktorat Bawah Air, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Keramik yang sering ditemukan di Indonesia berasal dari Cina (abad II XX Masehi), Thailand (abad XIII XVIII Masehi), Vietnam (abad XIII XVIII Masehi), Eropa (abad XVII XX Masehi), Jepang (abad XVII XX Masehi), dan Timur Tengah (abad VII XIV Masehi).
Setidaknya ada 10 ciri yang dapat digunakan untuk keperluan analisis keramik yang bertujuan untuk mengetahui asal daerah pembuatan, bentuk asal dan pertanggalan. Kesepuluh ciri itu adalah bentuk pecahan, besaran, orientasi pecahan, jenis bahan dasar, warna bahan dasar, pola hias, teknis hias, warna glasir, teknik glasir, dan sisa pengerjaan.
Untuk menentukan asal daerah pembuatan, digunakan ciri yang meliputi bentuk pecahan, besaran pecahan, ketebalan, orientasi, jenis bahan dasar, pola hias, warna glasir, dan teknik glasir. Sedangkan untuk penentuan masa pembuatan kerami k diperlukan pengamatan terhadap bentuk, jenis bahan dasar, warna bahan dasar, pola hias, teknik hias, dan warna glasir, Jejak pembuatan, lanjutnya, kalau kita jeli bisa ditemukan suatu tanda yang sengaja atau tidak sengajatampak pada permukaan porselin/bahan batuan setelah terjadi proses pembakaran.
Tentang temuan keramik di perairan utara Cirebon, berdasarkan identifikasi dan tipologi benda-benda keramik itu, merupakan keramik abad ke-10 Masehi dari masa Dinasti Lima.
Sudah tentu, melalui hasil identifikasi keramik ini, ada sedikit-banyaknya tambahan data untuk merangkai sejarah kebudayan masa lampau Indonesia
F. Analisi makam
Penelitian rnengenai pengaruh bentuk-bentuk nisan tipe Demak di Kompleks Makam Kaliwungu dan Tegal Arum yang telah dilakukan ini, tujuannya ialah untuk mengetahui perbedaan nilai “kekuatan” pengaruh bentuk nisan tipe Demak di kedua tempat tersebut Pengukuran nilai kekuatan pengaruh didasarkan pada penghitungan jumlah prosentase persamaan dan perbedaan bentuk nisan melalui variabel-variabelnya. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan langsung di lokasi penelitian dan inventarisasi laporan-laporan penelitian. Pengolahan data dilakukan melalui analisis bentuk untuk menghasilkan jenis-jenis atau tipe-tipe nisan pada masing-masing kompleks makam. Kemudian jenis-jenis nisan pada masing-masing kompleks makam tersebut dibandingkan dengan jenis nisan tipe Demak, sehingga menghasilkan gambaran persamaan dan perbedaannya melalui nilai jumlah prosentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk-bentuk nisan di Kaliwungu mempunyai nilai kekuatan pengaruh bentuk nisan tipe Demak sebesar 6,9 % berdasarkan frekuensi jumlah persamaan jenis bentuk nisan dan 57 % berdasarkan frekuensi jumlah persamaan variabel-variabel bentuk nisan. Sedangkan di Tegal Arum sebesar 3,1 % berdasarkan frekuensi jumlah persamaan jenis bentuk nisan dan 42,7 % berdasarkan frekuensi jumlahpersamaan variabel-variabel bentuk nisan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kaliwungu yang lokasinya lebih dekat ke Demak memiliki kekuatan pengaruh bentuk nisan tipe Demak yang lebih besar dibandingkan dengan Tegal Arum yang lokasinya lebih jauh. Hasil penelitian ini dapat memperkuat suatu teori tentang daerah kebudayaan yang menyebutkan bahwa suatu kebudayaan cenderung untuk berkembang dan menyebar yang berkaitan dengan faktor waktu, jarak.dan keadaan lingkungan. Kemudian semakin jauh jarak dan waktunya, maka akan semakin kecil hubungan persamaannya
3. Eksplanasi
Tahap terakhir adalah eksplanasi atau penafsiran terhadap data dan analisis yang telah kita lakukan. Eksplanasi dari data dan analisis untuk masjid panjunan adalah :
Berdasarkan data dan analisis yang telah dilakukan, dapat kita temukan bahwa masjid panjunan berbeda di tengah-tengah perkampungan warga tepatnya di daerah panjunan dekat ramayan atau yang kita kenal hero. Berdasarkan analisis yang telahdilakukan bahwa masjid panjunan terdiri dari berbagai macam bangunan dan di bagi menjadi 2 sekatan yaitu bagian utama masjdi dan ruang tertutup. Gaya masjid ini di pengaruhi oleh beberapa alkuturasi unsure budaya, penelitian ini bermaksudkan untuk mencari fakta-fakta pada suatu situs yaitu masjid panjunan
Inilah bebrapa gambar dari masjid merah panjunan
Bab III
Penutup
Kesimpulan
Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa,suatu penelitian arkeologi mempunyai bebrapa metode diantaranya, observasi , deskripsi, dan eksplanasi dimana metode penelitian ini mempunyai keterkitan satu dengan yang lain. Adapun pengertian dari berbagai macam metode penelitian arkeologi yaitu
Observasi adalah tahap pertama dalam metode Arkeologi. Tahap ini adalah tahap untuk mengumpulkan data arkeologi yang terdiri dari data kepustakaan dan data lapangan. Data kepustakaan dapat diperoleh dari berbagai seumber tertulis seperti buku, gambar, foto, peta. Data lapangan diperoleh dari penjajagan atau pengamatan tinggalan arkeologi di situs tersebut dan survei berupa pengamatan yang disertai analisis mendalam.
Deskripsi adalah metode pengambaran dari metode observasi.
Eksplanasi adalah metode penafsiran terhadap data dan analisis yang telah kita lakukan.
Daftar pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Surosowan_Banten.htm di ambil pada tanggal 18-09-2011
observasi masjid panjunan
http://id.wikipedia.org/wiki/Arkeologi di ambil pada tanggal 18-09-2011
Bab I
Pendahuluan
Latar belakang
Arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang benda- benda masa lampau (material), minimal berumur kurang lebih 50 tahun, yang perlu di perhatiakn karena benda – benda tersebut memiliki peranan penting pada masa tersebut, adapun metode-metode yang perlu di gunakan dalam mengamatibenda-benda masa lampau yaitu: observasi, deskripsi dan eksplanasi ketiga metode itu saling berhubungan satu sama lain, dari metode- metode itu kita dapat mencari fakta dari benda-benda masa lampau serta kita bisa tahu bahan-bahan yang terkandung dalam suatu benda atau situs, bukan hanya itu selain kita tahu material benda-benda tersebut juga denga adanya penelitain arkeologi ini kita juga bisa tahu sejarah dari suatu benda atau situ tersebut.
Tujuan
Tujuan dari penelitian arkeologi ini, supaya mahsiswa tahu bahwa dalam penelitian suatau arkeologi di butuhkan bebrapa metode diantaranya observasi, deskripsi dan eksplanasi, dimana dari ketiga metode itu kita bisa tahu apa saja yang tergakandung pada suatu situs atau benda itu, selain itu juga kita bisa tahu bagaimna sejarah dari suatu situs itu.
Rumusan masalah
Pengertian arkeologi
Metode-metode penelitian arkeologi
§ Observasi
§ Deskripsi
§ Eksplanasi.






saya ambil untuk bahan ya hehehehe
BalasHapusmas komarudin mangga semoga bermanfaat
BalasHapus