Selasa, 27 Maret 2012

arkeologi panjunan

oleh ibnuabas spi

Bab II
Sejarah panjunan (pangeran panjunan )
     Menurut buku baba Cirebon, bawasanya di bagdhdah (ibukota irak ),ada seorang sultan yang bernama sultan Maulana Sulaiman yang sudah lama bersedih hati , karena sang putra , Syarif Abdurahman bertentangan dengan syariat agama islam, Tidak menghindahkan batal atau kharam. Siang malam beliau membopong anjing, bersama penganut-penganutnya. Adapun saudara – saudara mudanya ialah syarif abdurachim, syarif khafi, dan syarifah yang mengikiuti tingkah laku saudara tuanya. Antara dua bulan lamanya Syarif abdurahman tidak makan dan tidak tidur karena sedang majnun bilahi Ta’ala( cinta rindu kepada Allah SWT).
      Pada suatu hari kanjeng sultan Sulaiman berjumpa dengan pejabat-pejabat pemerintahan, semua pejabat itu pun berkumpul bersama tiga putra lelakinya. Adapun syarif Abdurahman melakukan sesuatu yang tidak wajar atau lumrah, dan kanjeng sultan pun berkata  kepada Abdurahman tinggalkan lah kebiasaan burukmu itu, yang suka bertentangan dengan syariat islam, karena aku menjabat sebagi sultan penetap  panata agama ( sultan yang bekuasa atas agama dan politisi), dan syarif pun tidak mematuhi perintah ayahnya, bahkan Syarif Abdurahman makin menjadi ulahnya ituyang tidak wajar.
      Oleh karena itu sultan pun sangat marah, akhirnya Syarif Abdurahman pun di usir dari tanah irak.  Lalu syekh  Juned berkata kepada Syarif Abdurahman, janganlah engkau pergi berkelana ke lain Negara, menujulah ke pulau jawa dan bermukimlah di Cirebon. Bergurulah kepada syekh nurjati yang berada di gunung jati, dan engkau jangan sungkan dan ragu, apa yang aku wejangkan sebagai guru engkau dan ilmu engkau akan sempurna kemudian Syarif Abdurahman pun mematuhi perintah gurunya itu, ia pun berpamitan untuk meneruskan perjalananya, dan tibalah ia di sebuah pinggir pantai
      Singkat cerita setelah bertemu dan berguru pada sunan gunung jati  akhirnya syarif abdurahman yang menjadi pemimpin memberikan barang-barang keramik dari tanah liat atau sering di sebut anjun dari situlah disebut sebagai pangeran panjunan dan pemukimanya pun di beri nama dukuh panjunan pada tahun 1464 M, dan d panjunan pula di dirikan sebuah masjid yang di beri nama masjid merah panjunan sekitar.
 Hasil Observasi ke Masjid Panjunan
      Arkeologi, berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti "kuna" dan logos, "ilmu". Nama alternatif arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan material. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Maka  arkeologi islam  adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui sistematis atas data bendawi yang di tinggalkan oleh umat islam pada masa dahulu .
   Masjid panjunan yang konon dibikin hanya dalam waktu semalam ini lebih mirip surau karena ukurannya kecil. Kemeriahan memuncak pada Ramadhan, ketika orang, baik dari dalam maupun luar kota, berburu takjil, hidangan buka puasa, berupa gahwa alias kopi jahe khas Arab.
 Perpaduan Arab dan Tiongkok ini tak lain terjadi karena Cirebon, yang pernah bernama Caruban pada masa silam, adalah kota pelabuhan. Lantaran lokasi masjid itu di kawasan perdagangan, sungguh tak aneh jika Masjid Merah—semula mushala Al-Athyah— tumbuh dengan berbagai pengaruh, seperti juga semua keraton yang ada di Cirebon.
       Bangunan lama mushala itu berukuran 40 meter persegi saja, kemudian dibangun menjadi berukuran 150 meter persegi karena menjadi masjid. Pada tahun 1949, Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati) membangun pagar Kutaosod dari bata merah setebal 40 cm dengan tinggi 1,5 m untuk mengelilingi kawasan masjid.
Inilah bebrapa perbincangan saya  dengan  bapak toto selaku anggota dkm , yang mewakili dari ketua dkm, yang pada saat itu sedang tidak ada di tempat beliau ada dipekalongan  beliau bernama bapak  habib Abdurahman.
      Secara fisik masjid  ini sangat unik, masjid yang berada di daerah  panjunan ini, pada tahun 1480an ini yang di dominasi dengan warna merah mempunyai suatu  ragam hiasa yang Tampak muka Masjid Merah Panjunan yang terbuat dari susunan batu bata merah yang pintu gapuranya memperlihatkan pengaruh Hindu dari jaman Majapahit yang banyak bertebaran di daerah Cirebon, bukan  hanya   terpengaruhi oleh  budha , masjid ini juga  di pengaruhi gaya tiongkok dan arab. Masjid  ini,  berdenah bujur sangkar, terdapat pendopo, tiang utama terdiri dari empat s yang  menarik pada pilar Masjid Merah Panjunan adalah bentuk pilar bulat dengan umpak yang juga berbentuk bulat hanya terdapat di baris depan, yang tampaknya berfungsi sebagai Soko Guru, yang pada kebanyakan bangunan  tradisional lain diletakkan dalam posisi segi empat. Pilar kayu lainnya berbentuk segi empat sebagaimana bentuk umpaknya., ruang utama masjid sendiri hanya dipakai untuk sholat lima waktu dan menurut bapak Toto sendiri masjid ini tidak di gunakan untuk sholat jumat karena untuk menjaga kesakralan,selain itu masjid merah panjunan ini di gunakan oleh para wali untuk berkordinasi dalam mensyiarkan agama islam di Cirebon dan sekitarnya. Antara ruang utama dan pendop di batasi oleh dinding-dinding yang berhias timbul dan pilar-pilarnya dengan piringan kramik dari  tiongkok ,yang menurut cerita pa toto bahwa keramik Tiongkok itu merupakan bagian dari hadiah kaisar China ketika Sunan Gunung Jati menikahi putri sang kaisar yang bernama Tan Hong Tien Nio(liong tin)  ujar beliau. Akan tetapi mirisnya keramik-keramik yang ada di tembok pagar ada yang sudah dicukil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, terutama yang ada pada bagian pagar temboknya.di masjid ini juga, tidak ada tulisan kaligrafi Arab indah yang berbunyi Allah dan Muhammad di tembok kiri dan kanan depan Masjid Merah Panjunan, sebagaimana banyak dijumpai pada bangunan masjid lain. Di Masjid Merah Panjunan, tulisan itu terdapat di bagian atas mihrab di dalam sebuah kotak kecil berbentuk wajik
      Masjid ini beratapkan atau genteng dari sirap,adapun masjid ini mengalami pengembangan menara dimana dulu ada menara yang sekarang diubah menjadi tempat bedug dan di belakang tempat bedug juga terdapat sebuah makam yang menurut pak toto menyakini bahwa  itu merupakan  makam  peralatan yang pada waktu itu untuk membangun masjid yang berada di sebelah kiri ruang utama, selain menara, tempat wuduh pun telah di kembangkan yang tadinya masih menggunakan  seperti kolam , tapi sekarang menggunakan keran., di ruangan yang tertutup itu juga terdapa suatu  mimbar yang tertutup kain putih seperti kafan, dan pada kesempatan itu saya tidak bisa mengabadikannya karena kunci yang tidak ada di bawa oleh  bapak Abdurahman,
Akulturasi budaya
      Dalam berbagai tulisan sejarah, dijelaskan bahwa proses akulturasi di Indonesia sudah terjadi semenjak masa pra-Islam, yaitu Buddha dan Hindu. Agama Hindu datang ke Indonesia dibawa oleh bangsa India. Setelah itu, datanglah agama Islam. Agama-agama tersebut kemudian bertemu dan mengadakan kontak secara terus-menerus. Akhirnya, terjadilah akulturasi di antara ketiga agama tersebut.
      Wujud akulturasi tersebut dapat dilihat dari unsur budaya yang ada pada arsitektur Masjid Merah Panjunan. Unsur budaya Islam terlihat dari fisik dan fungsi masjid, terlihat pada mimbar, mihrab, tempat wudhu, dan beberapa ragam hias kaligrafi yang terlihat di tiang dan blandar.
      Unsur budaya Jawa terlihat pada arsitektur masjid ini, yaitu dengan adanya tajug dan limasan. Sementara itu, pengaruh dari China adalah penggunaan beberapa keramik produksi Tiongkok untuk hiasan tempel, dan penggunaan bahan sirap seperti pada bangunan khas China.  Makna-makna filosofis dan simbol-simbol di Masjid Merah Panjunan merupakan pengaruh Hindu. Tentu saja kemudian makna filosofis dan simbol itu disesuaikan dengan ajaran Islam.


Inilah bebrapa gambar dari masjid panjunan yang di photo dengan kamera hp tampak luar dan dalam
Masjid panjunan yang Nampak dari depan           ruang utama masjid panjunan

Tugu depan masjid panjunan yang di pengaruhi oleh gaya budha
















Bab III
Penutup
Kesimpulan
      Dari sejarah dan observasi langsung ke tempat maka dapat di simpulkan bahwa masjid merah panjunan yang berada di desa lemah wungkuk kab Cirebon ini, merupakan salah satu bangunan kuno di Indonesia yang mash ada hingga kini, masjid ini merupakan salah satu masjid tertua juga di Cirebon  yang di dirikan oleh syekh Abdurahman  salah seorang kaka ipar dari sunan gunung jati. Masjid ini juga mempunyai keunikan tersediri dimana seluruh bangunanya di dominasi dengan warna merah, sehingga masjis ini dikenal juga masjid merah panjunan , nama panjunan sendri berasal dari anjun yang artinya barang-barang yang terbuat dari tanah liat.
                                                                                 
Daftar pustaka
                                           
www. Arkeologi masjid panjunan.com








Inilah bebrapa gambar piringan  yang saya ambil dengan kamera hp saya   



Bab I
Pendahulaun
Latar belakang
     Sebuah situs akan berguna bagi sejarah apabila situs itu bisa di abadikan, dan mempunyai sesuatu nilai dan cirri-ciri tertentu adapun kali ini saya akan mencoba mengobservasi sala satu situs bangunan di Indonesia yang sudah tua atau kuno yaitu masjid merah panjuna yang di dirikan oleh salah satu kaka ipar dari sunan Gunung Jati. Yang sampai sekarang masih berdiri kokoh dan masih asli hanya beberapa yang mengalami pengembangan demi menjaga keutuhan masjid itu sendiri.
     Masjid yang bangunanya bergaya atau terpengaruh gaya dari tiongkok ini, sering kita kenal dengan masjid merah panjunan dimana setiap arsitekturnya itu sendiri banyak menggunakan warna merah dan berada di desa panjunan kec Cirebon ini. Nama panjunan sendiri mempunyai makna yang artinya branag- barang yant terbuat dari tanah liat.

Tujuan
     Tujuan membuat makalah ini yaitu kita sebagai generasi penerus supaya tahu bagaiman sejarah dan arkeologinya itu sendri, dengan cara kita mengobservasi lagsung pada tempatnya dan bertemu dengan narasumber nya untuk minta keterangan tentang situs atau tempat tersebut bagaimana sejarah dan fisik bangunanya itu sendri.

Rumusan masalah
Bagaimana tata letak sejak berdirinya,
Apakah mengalami perubahan atau tidak
Arsitekturnya terbuat dari apa dan meniru gaya apa ragam hiasnya.






Masjid Merah Panjunan
Add caption
Bedug dan makam di sebelah kiri ruangan utama masjid

Masjid Merah Panjunan
Pengimaman masjid merah panjunan yang di hiasi dengan piringan- piringan dari tiongkok dan terlihat ragam hias yang seperti sayap.

1 komentar: