Selasa, 27 Maret 2012

arkeologi panjunan

oleh ibnuabas spi

Bab II
Sejarah panjunan (pangeran panjunan )
     Menurut buku baba Cirebon, bawasanya di bagdhdah (ibukota irak ),ada seorang sultan yang bernama sultan Maulana Sulaiman yang sudah lama bersedih hati , karena sang putra , Syarif Abdurahman bertentangan dengan syariat agama islam, Tidak menghindahkan batal atau kharam. Siang malam beliau membopong anjing, bersama penganut-penganutnya. Adapun saudara – saudara mudanya ialah syarif abdurachim, syarif khafi, dan syarifah yang mengikiuti tingkah laku saudara tuanya. Antara dua bulan lamanya Syarif abdurahman tidak makan dan tidak tidur karena sedang majnun bilahi Ta’ala( cinta rindu kepada Allah SWT).
      Pada suatu hari kanjeng sultan Sulaiman berjumpa dengan pejabat-pejabat pemerintahan, semua pejabat itu pun berkumpul bersama tiga putra lelakinya. Adapun syarif Abdurahman melakukan sesuatu yang tidak wajar atau lumrah, dan kanjeng sultan pun berkata  kepada Abdurahman tinggalkan lah kebiasaan burukmu itu, yang suka bertentangan dengan syariat islam, karena aku menjabat sebagi sultan penetap  panata agama ( sultan yang bekuasa atas agama dan politisi), dan syarif pun tidak mematuhi perintah ayahnya, bahkan Syarif Abdurahman makin menjadi ulahnya ituyang tidak wajar.
      Oleh karena itu sultan pun sangat marah, akhirnya Syarif Abdurahman pun di usir dari tanah irak.  Lalu syekh  Juned berkata kepada Syarif Abdurahman, janganlah engkau pergi berkelana ke lain Negara, menujulah ke pulau jawa dan bermukimlah di Cirebon. Bergurulah kepada syekh nurjati yang berada di gunung jati, dan engkau jangan sungkan dan ragu, apa yang aku wejangkan sebagai guru engkau dan ilmu engkau akan sempurna kemudian Syarif Abdurahman pun mematuhi perintah gurunya itu, ia pun berpamitan untuk meneruskan perjalananya, dan tibalah ia di sebuah pinggir pantai
      Singkat cerita setelah bertemu dan berguru pada sunan gunung jati  akhirnya syarif abdurahman yang menjadi pemimpin memberikan barang-barang keramik dari tanah liat atau sering di sebut anjun dari situlah disebut sebagai pangeran panjunan dan pemukimanya pun di beri nama dukuh panjunan pada tahun 1464 M, dan d panjunan pula di dirikan sebuah masjid yang di beri nama masjid merah panjunan sekitar.
 Hasil Observasi ke Masjid Panjunan
      Arkeologi, berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti "kuna" dan logos, "ilmu". Nama alternatif arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan material. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Maka  arkeologi islam  adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui sistematis atas data bendawi yang di tinggalkan oleh umat islam pada masa dahulu .
   Masjid panjunan yang konon dibikin hanya dalam waktu semalam ini lebih mirip surau karena ukurannya kecil. Kemeriahan memuncak pada Ramadhan, ketika orang, baik dari dalam maupun luar kota, berburu takjil, hidangan buka puasa, berupa gahwa alias kopi jahe khas Arab.
 Perpaduan Arab dan Tiongkok ini tak lain terjadi karena Cirebon, yang pernah bernama Caruban pada masa silam, adalah kota pelabuhan. Lantaran lokasi masjid itu di kawasan perdagangan, sungguh tak aneh jika Masjid Merah—semula mushala Al-Athyah— tumbuh dengan berbagai pengaruh, seperti juga semua keraton yang ada di Cirebon.
       Bangunan lama mushala itu berukuran 40 meter persegi saja, kemudian dibangun menjadi berukuran 150 meter persegi karena menjadi masjid. Pada tahun 1949, Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati) membangun pagar Kutaosod dari bata merah setebal 40 cm dengan tinggi 1,5 m untuk mengelilingi kawasan masjid.
Inilah bebrapa perbincangan saya  dengan  bapak toto selaku anggota dkm , yang mewakili dari ketua dkm, yang pada saat itu sedang tidak ada di tempat beliau ada dipekalongan  beliau bernama bapak  habib Abdurahman.
      Secara fisik masjid  ini sangat unik, masjid yang berada di daerah  panjunan ini, pada tahun 1480an ini yang di dominasi dengan warna merah mempunyai suatu  ragam hiasa yang Tampak muka Masjid Merah Panjunan yang terbuat dari susunan batu bata merah yang pintu gapuranya memperlihatkan pengaruh Hindu dari jaman Majapahit yang banyak bertebaran di daerah Cirebon, bukan  hanya   terpengaruhi oleh  budha , masjid ini juga  di pengaruhi gaya tiongkok dan arab. Masjid  ini,  berdenah bujur sangkar, terdapat pendopo, tiang utama terdiri dari empat s yang  menarik pada pilar Masjid Merah Panjunan adalah bentuk pilar bulat dengan umpak yang juga berbentuk bulat hanya terdapat di baris depan, yang tampaknya berfungsi sebagai Soko Guru, yang pada kebanyakan bangunan  tradisional lain diletakkan dalam posisi segi empat. Pilar kayu lainnya berbentuk segi empat sebagaimana bentuk umpaknya., ruang utama masjid sendiri hanya dipakai untuk sholat lima waktu dan menurut bapak Toto sendiri masjid ini tidak di gunakan untuk sholat jumat karena untuk menjaga kesakralan,selain itu masjid merah panjunan ini di gunakan oleh para wali untuk berkordinasi dalam mensyiarkan agama islam di Cirebon dan sekitarnya. Antara ruang utama dan pendop di batasi oleh dinding-dinding yang berhias timbul dan pilar-pilarnya dengan piringan kramik dari  tiongkok ,yang menurut cerita pa toto bahwa keramik Tiongkok itu merupakan bagian dari hadiah kaisar China ketika Sunan Gunung Jati menikahi putri sang kaisar yang bernama Tan Hong Tien Nio(liong tin)  ujar beliau. Akan tetapi mirisnya keramik-keramik yang ada di tembok pagar ada yang sudah dicukil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, terutama yang ada pada bagian pagar temboknya.di masjid ini juga, tidak ada tulisan kaligrafi Arab indah yang berbunyi Allah dan Muhammad di tembok kiri dan kanan depan Masjid Merah Panjunan, sebagaimana banyak dijumpai pada bangunan masjid lain. Di Masjid Merah Panjunan, tulisan itu terdapat di bagian atas mihrab di dalam sebuah kotak kecil berbentuk wajik
      Masjid ini beratapkan atau genteng dari sirap,adapun masjid ini mengalami pengembangan menara dimana dulu ada menara yang sekarang diubah menjadi tempat bedug dan di belakang tempat bedug juga terdapat sebuah makam yang menurut pak toto menyakini bahwa  itu merupakan  makam  peralatan yang pada waktu itu untuk membangun masjid yang berada di sebelah kiri ruang utama, selain menara, tempat wuduh pun telah di kembangkan yang tadinya masih menggunakan  seperti kolam , tapi sekarang menggunakan keran., di ruangan yang tertutup itu juga terdapa suatu  mimbar yang tertutup kain putih seperti kafan, dan pada kesempatan itu saya tidak bisa mengabadikannya karena kunci yang tidak ada di bawa oleh  bapak Abdurahman,
Akulturasi budaya
      Dalam berbagai tulisan sejarah, dijelaskan bahwa proses akulturasi di Indonesia sudah terjadi semenjak masa pra-Islam, yaitu Buddha dan Hindu. Agama Hindu datang ke Indonesia dibawa oleh bangsa India. Setelah itu, datanglah agama Islam. Agama-agama tersebut kemudian bertemu dan mengadakan kontak secara terus-menerus. Akhirnya, terjadilah akulturasi di antara ketiga agama tersebut.
      Wujud akulturasi tersebut dapat dilihat dari unsur budaya yang ada pada arsitektur Masjid Merah Panjunan. Unsur budaya Islam terlihat dari fisik dan fungsi masjid, terlihat pada mimbar, mihrab, tempat wudhu, dan beberapa ragam hias kaligrafi yang terlihat di tiang dan blandar.
      Unsur budaya Jawa terlihat pada arsitektur masjid ini, yaitu dengan adanya tajug dan limasan. Sementara itu, pengaruh dari China adalah penggunaan beberapa keramik produksi Tiongkok untuk hiasan tempel, dan penggunaan bahan sirap seperti pada bangunan khas China.  Makna-makna filosofis dan simbol-simbol di Masjid Merah Panjunan merupakan pengaruh Hindu. Tentu saja kemudian makna filosofis dan simbol itu disesuaikan dengan ajaran Islam.


Inilah bebrapa gambar dari masjid panjunan yang di photo dengan kamera hp tampak luar dan dalam
Masjid panjunan yang Nampak dari depan           ruang utama masjid panjunan

Tugu depan masjid panjunan yang di pengaruhi oleh gaya budha
















Bab III
Penutup
Kesimpulan
      Dari sejarah dan observasi langsung ke tempat maka dapat di simpulkan bahwa masjid merah panjunan yang berada di desa lemah wungkuk kab Cirebon ini, merupakan salah satu bangunan kuno di Indonesia yang mash ada hingga kini, masjid ini merupakan salah satu masjid tertua juga di Cirebon  yang di dirikan oleh syekh Abdurahman  salah seorang kaka ipar dari sunan gunung jati. Masjid ini juga mempunyai keunikan tersediri dimana seluruh bangunanya di dominasi dengan warna merah, sehingga masjis ini dikenal juga masjid merah panjunan , nama panjunan sendri berasal dari anjun yang artinya barang-barang yang terbuat dari tanah liat.
                                                                                 
Daftar pustaka
                                           
www. Arkeologi masjid panjunan.com








Inilah bebrapa gambar piringan  yang saya ambil dengan kamera hp saya   



Bab I
Pendahulaun
Latar belakang
     Sebuah situs akan berguna bagi sejarah apabila situs itu bisa di abadikan, dan mempunyai sesuatu nilai dan cirri-ciri tertentu adapun kali ini saya akan mencoba mengobservasi sala satu situs bangunan di Indonesia yang sudah tua atau kuno yaitu masjid merah panjuna yang di dirikan oleh salah satu kaka ipar dari sunan Gunung Jati. Yang sampai sekarang masih berdiri kokoh dan masih asli hanya beberapa yang mengalami pengembangan demi menjaga keutuhan masjid itu sendiri.
     Masjid yang bangunanya bergaya atau terpengaruh gaya dari tiongkok ini, sering kita kenal dengan masjid merah panjunan dimana setiap arsitekturnya itu sendiri banyak menggunakan warna merah dan berada di desa panjunan kec Cirebon ini. Nama panjunan sendiri mempunyai makna yang artinya branag- barang yant terbuat dari tanah liat.

Tujuan
     Tujuan membuat makalah ini yaitu kita sebagai generasi penerus supaya tahu bagaiman sejarah dan arkeologinya itu sendri, dengan cara kita mengobservasi lagsung pada tempatnya dan bertemu dengan narasumber nya untuk minta keterangan tentang situs atau tempat tersebut bagaimana sejarah dan fisik bangunanya itu sendri.

Rumusan masalah
Bagaimana tata letak sejak berdirinya,
Apakah mengalami perubahan atau tidak
Arsitekturnya terbuat dari apa dan meniru gaya apa ragam hiasnya.






Masjid Merah Panjunan
Add caption
Bedug dan makam di sebelah kiri ruangan utama masjid

Masjid Merah Panjunan
Pengimaman masjid merah panjunan yang di hiasi dengan piringan- piringan dari tiongkok dan terlihat ragam hias yang seperti sayap.

Senin, 26 Maret 2012

makalah filologi di kawasan asia dan india


oleh Ibas_wascam dan kawan-kawan
Bab II
Filologi Di Kawasan Asia dan India
Sejak beberapa abad sebelum Masehi, bangsa Asia telah memiliki peradaban yang tinggi. Sejak mengenal huruf, sebagian besar kebudayaan mereka ditulis dalam bentuk naskah yang member banyak informasi mengenai kehidupan mereka di masa lampau.

Diantara bangsa Asia yang dipandang memiliki dokumen masa lampau adalah India. Penelitian terhadap India menunjukkan adanya kontak secara langsung dengan Yunani pada zaman Raja Iskandar Zulkarnain yang melakukan perjalanan sampai India pada abad ke-3. Terlihat adanya perpaduan dengan kebudayaan Yunani pada bentuk patung dan nilai-nilai ilmunya.

Sejak abad ke-1 mulai terjadi kontak langsung bangsa India dengan Cina. Sekelompok pendeta Buddha mengadakan perjalanan dakwah ke Cina, dan sesudah itu musafir Cina berziarah ke tempat-tempat suci agama Buddha di India. Dalam perjalanan itu, mereka sempat menerjemahkan naskah-naskah India ke dalam bahasa Cina. Bahkan ada ringkasan delapan bab ilmu kedokteran India dalam bahasa Cina.

Kontak antara bangsa India dengan Timur Tengah mungkin terjadi sejak awal sebelum bertemu dengan bangsa lain. Kemungkinan ini sangat kuat mengingat letak geografis kedua kebudayaan besar ini berdekatan tanpa terbatas kondisi alam tertentu. Sayangnya belum didapati keterangan yang memadai dari sedikit dokumen yang menunjukkan kontak antara keduanya. Hanya terdapat terjemahan naskah India ke dalam bahasa Persi dan catatan musafir Arab-Persi mengenai beberapa aspek kebudayaan India dalam kunjungannya ke tempat tersebut.
Naskah India yang dipandang paling tua berupa kesusastraan Weda, ialah kitab suci agama Hindu yang disusun mungkin pada abad ke-6 s.M. Setelah periode Weda disusunlah naskah-naskah kitab suci lain. Selain naskah dengan nilai agama dan filsafat, ada uga naskah lama India yang berisi wiracarita misalnya Mahabarata dan Ramayana serta karya yang berisi ilmu pengetahuan seperti ilmu kedokteran, tatabahasa, hukum, dan politik.

Telaah Filologi terhadap naskah-naskah India baru dilakukan setelah adanya kontak dengan bangsa Barat, yaitu setelah ditemukannya jalan laut ke India. Proses mengenal kubudayaan India bertahap, mulai dari bahasa daerah, bahasa Sansekerta, baru kemudian ditemukan kitab Weda. Sejak itu lah kegiatan filologi terhadap naskah India semakin berkembang dan membuahkan hasil yang sangat berarti seperti berbagai kamus dan tatabahasa Sansekerta .
Naskah-naskah India
Naskah-naskah bangsa india yang di pandang paling tua adalah kasatraan weda yaitu kitab suci agama hindu, yang mengandung empat bagian diantaranya: regweda, samaweda, yajurweda dan atarwa weda.yang dui susun munkin pada abad ke 6SM. Adapun isi dari kita weda itu sendiri menceritakan tentang keprcayaan kepada dewa, penyembahan terhadap mereka secara ritual ,mantra-mantra yang mengiringi upacara keagamaan hindu, dan ilmu sihir. Setalah periode weda selesai maka disusun naskah-naskah lain yang berisi kitab suci brhamana, kitab aranyaka dan kitab upanisad, dalam kitab brahmana menjlaskan tentang penciptaan dunia dan isinya, cerita para dewa, serta cerita mengenai persajian. Kitab aranyaka menjlaskan tentang petunujk bagi petapa, yang menjalani kehidupan dalam hutan-hutan.dan isi kitab upanisad menceritakan masalah filsafat yang memikirkan rahasia dunia.
Selain naskah-naskah yang di sebutkan di atas, yang menceritakan kepercayaan dan filsafat, naskah-naskah lama india juga berisi wiracarita, misalanya mahabrata dan Ramayana:karya tulis para kawya seperti: Harsacarita gubahan penyair bana, Buddhacarita gubahan aswagosa.cerita binatang atau fable seperti pancatantra,cerita drama serta karya-karya ilmu pengetahuan seperti ilmu kedokteran, tatabahasa dll.
Telaah Filologi terhadap Naskah-Naskah India
Pada tahun 1498 india kedatangan bangsa barat yaitu Vasco da Gama. Ia yang menemukan jalan laut ke daratan india,dari situlah naskah-naskah india yang berisikan berbagai aspek kebudayaan baru muli di telaah. Dan awalnya yang mereka kenal adanya bahasa-bahasa daerah seperti: bahasa gujarati, bahasa bangali, pada abad seblum abad ke 19. Dan setlah abad ke 19 baru mengetahu bahasa sansekerta, dan akhir dari abad ke 19 baru di temukan kitab-kitab tentang weda. Hasil dari kajian filologiterhadap naskah-naskah tersebut mulai dipublikasikan oleh orang belanda Abraham Roger yang berjudul open door  hidden heathendom pada tahun 1651. Dia juga pernah tinggal di Madras sebagai penyiar agama nasrani dan karanganya mengenai ajaran kitab suci brahmana dan sebuah ikhtisiar penyair puisi bhratihari. Lalu terbit juga dari orang perancis bernama Bernier1671 dan Tafernier 1677. Mengenai geografi politik ada istiadat serta kepercayaan bangsa india.
Tatabahasa sansekerta pertamakalinya di tulis oleh Hanxleden, seorang pendeta berkebangsaan jerman, dalam bahasa latin,karangan ini di terbitkan di roma oleh seorang penginjil berbangsa Austria bernama fra paolo bratolomeo 1790
Bangsa inggris baru pada abad ke 18 memulai kegiatan filologi di india.diawali hasrat gubernur jendral Warren Hastings menyusun kitab hokum berdasarakan hokum yang di tulis dalam naskah-naskah lama  bangsa india sendiri.lalu di galinya serta di terbitak pada tahun 1776 di londen. Pada tahun 1784 wadah kegiatan filologi bernama the asia society di dirikan di bangal oleh para orientalis inggrisyang pada saat itu sedang bekerja di india.di antaranya ada 3 yang membuat maju kegiatan itu ialah sir Charles wikins,sir William jones dan henry Thomas colebrooke.
Pada awal abad ke 19 alexander Hamilton (berbangsa inggris), friedrich schlegel (jerman), keduanya di pandang ahli yang memajukan studi naskah sansekerta di eropa.pada tahun 1808 friedrich menulis buku berjudul  on the language and wisdom of india dan mendirikan lembaga filologi india-jerman.


Brāhmī ialah nama model yang diberikan kepada ahli-ahli tertua dalam salasilah tulisan India. Catatan-catatan Brāhmī yang paling terkenal merupakan ukiran Titah-Perintah Ashoka di kawasan utara tengah India dari abad ke-3 SM yang dikenali sebagai contoh-contoh terawal tulisan Brāhmī, namun sistem tulisan berkenaan mungkin lebih lama digunakan, seawal-awal abad ke-6 SM. Pada tahun 1837, catatan tersebut berjaya ditafsirkan oleh seorang ahli arkeologi, filologi dan pegawal Syarikat Hindia-Timur British bernama James Prinsep.[2]
Seperti tulisan Kharoṣṭ yang sezaman dengannya yang pernah wujud di kawasan Afghanistan dan Pakistan, Brāhmī merupakan tulisan abugida, iaitu abjad konsonan yang diiringi tanda diakritik sebagai vokal. Huruf-hurufnya disusun mengikut grid (varga) mengikut prinsip fonetik, oleh itu tulisan ini ketika dicipta dikatakan hasil inovatif.[3]
Tulisan ini merupakan nenek moyang bagi kebanyakan tulisan di Asia Selatan, Asia Tenggara, Tibet, dan mungkin juga Hangul Korea. Nombor Brahmi merupakan nenek moyang Nombor Hindu-Arab, yang kini digunakan di seluruh dunia. Susunan abjad Brāhmī juga diterima guna sebagai urutan tulisan kana Jepun, namun huruf-hurufnya pula tiada kaitan langsung.

Asal-usul
Tulisan Brāhmī pernah digunakan untuk menulis loghat-loghat Prakrit awal. Penggunaannya terhad kepada catatan pada binaan, batu nisan dan juga kitab suci. Pada mulanya Bahasa Sanskrit tiada sistem tulisan sendiri sehingga berabad-abad kemudian. Oleh itu, tulisan Brāhmī tidak sesuai sepenuhnya untuk menulis bahasa Sanskrit, memandangkan beberapa bunyi dalam bahasa Sanskrit tiada padanan dalam tulisan Brāhmī.
Penemuan terawal tulisan abjad di kawasan Hindukush, khususnya abjad Aramia, terwujid pada abad ke-6 SM melalui peluasan Empayar Achaemenid yang meliputi lembah Indus di bawah pimpinan Raja Darius. Perkembangan sistem tulisan dari abad ke-6 hingga ke-3 SM agak samar-samar.
Adanya pihak yang berhujah bahawa cebis-cebisan epigrafi bertulisan Brāhmī yang ditemui di Sri Lanka dan Tamil Nadu, dipercayai dihasilkan sekitar abad ke-6 hingga ke-5 SM, dijadikan bukti peluasan agama Buddha[5], tetapi bukti-bukti wujudnya catatan Brahmi sebelum zaman Maurya Brahmi masih belum disahkan kerana cuma terdiri daripada cebisan sajak yang mungkin berisi aksara-aksara individu. Oleh itu, catatan-catatan zaman Asoka pada abad ke-3 SM tetap merupakan catatan lengkap terawal yang diketahui kekal, dan begitu juga tulisan Bhattiprolu yang mungkin wujud lebih awal dari zaman Asoka.
Kemungkinan epigrafi pra-Asoka
Antara bahan-bahan dari zaman lebih awal yang dijumpai termasuklah serpihan tembikar dari bandar perdagangan Anuradhapura di Sri Lanka, yang dipercayai dibuat sekitar abad ke-6 hingga ke-4 SM;[6] Bhattiprolu;[7] dan juga pada serpihan tembikar di Adichanallur, Tamil Nadu, yang dikenal pasti berasal dari abad ke-6 SM melalui teknik radiokarbon.[8]
Kaitan dengan tulisan Aramia
Ramai pengkaji mempercayai bahawa tulisan Brāhmī berasal atau dipengaruhi oleh suatu abjad Semitik seperti abjad Aramia, seperti abjad Kharosthi yang wujud di kawasan barat laut India yang pernah ditakluki oleh empayar Achaemenid.
Catatan-catatan Brāhmī terawal memperlihatkan keserupaan yang ketara dengan bahasa Aramia bagi fonem-fonem yang bersamaan antara kedua-dua bahasa, khususnya huruf-huruf yang seolah-olah dibalikkan kerana perubahan arah penulisan. (Bahasa Aramia ditulis dari kanan ke kiri, begitu juga tulisan Brāhmī pada mulanya, tetapi lama-kelamaan tulisan Brāhmī berubah arah iaitu dari kiri ke kanan.) Contohnya, huruf bagi bunyi g dalam abjad Brāhmī dan Aramia g berupa Λ; huruf t pula menyerupai ʎ, dan sebagainya.
Tulisan Brahmi menunjukkan beberapa tambahan berbanding abjad Aramia. Contohnya, abjad Aramia tidak membezakan konsonan plosif gigi dan gelungan; dalam tulisan Brāhmī pula aksara-aksara konsonan gigi dan gelungannya agak serupa bentuknya, seolah-oleh kedua-duanya berasal dari huruf yang sama. Abjad Aramia tiada konsonan berhembusan seperti tulisan Brāhmī (kʰ, tʰ dsb.), manakala tulisan Brāhmī tiada konsonan penegas seperti abjad Aramia (q, , ); nampaknya huruf-huruf penegas Aramia ini dijadikan huruf konsonan berhembusan dalam tulisan brahmi: huruf q Aramia menjadi huruf kh Brāhmīhuruf Aramia (Θ) menjadi huruf th (ʘ) Brāhmī, dsb. Sementara abjad Aramia tiada konsonan penegas bagi p, maka tulisan Brāhmī nampaknya menggandakan aksara p-nya untuk mengisi huruf ph berhembusan. Oleh itu, huruf-huruf p dan ph dalam tulisan Brāhmī amat serupa bentuknya, seolah-olah diambil dari huruf Aramia p yang sama. Huruf pertama kedua-dua abjad i ni juga berpadanan: huruf a Brāhmī yang menyerupai huruf K yang terbalik, amat serupa dengan huruf alef dalam abjad Aramia yang menyerupai huruf א dalam abjad Ibrani. Jadual berikut membandingkan tulisan Brāhmī dengan abjad Phoenicia yang amat menyerupai abjad Aramia kuno.
Kebarangkalian penerbitan tulisan Brahmi dari abjad Phoenicia
Yunani
Α
Β
Γ
Δ
Ε
Υ
Ζ
Η
Θ
Ι
Κ
Λ
Μ
Ν
Ξ
Ο
Π
Ϻ
Ϙ
Ρ
Σ
Τ
Phoenicia
Aleph
Beth
Gimel
Daleth
He
Waw
Zayin
Heth
Teth
Yodh
Kaph
Lamedh
Mem
Nun
Samekh
Ayin
Pe
Sadek
Qoph
Res
Sin
Taw
Brahmi
Brah a.png
Brah b.png
Brah g.png
Brah dh.png
Brah dh1.png
 ?
Brah v.png
Brah d.png
Brah d1.png
 ?
Brah th.png
Brah th1.png
Brah y.png
Brah k.png
Brah c.png
Brah l.png
Brah m.png
Brah n.png
Brah n1.png
Brah sh.png
 ?
Brah p.png
Brah ph.png
Brah s.png
Brah kh.png
Brah ch.png
Brah r.png
Brah s1.png
Brah t.png
Brah t1.png
Devanagari



IAST
a
ba
ga
dha
ha

va
da?
a?

tha
ha
ya
ka
ca
la
ma
na
a
śa*

pa
pha
sa*
kha
cha
ra
a*
ta
a