Bab
II
Sejarah
panjunan (pangeran panjunan )
Menurut buku baba Cirebon, bawasanya di
bagdhdah (ibukota irak ),ada seorang sultan yang bernama sultan Maulana
Sulaiman yang sudah lama bersedih hati , karena sang putra , Syarif Abdurahman
bertentangan dengan syariat agama islam, Tidak menghindahkan batal atau kharam.
Siang malam beliau membopong anjing, bersama penganut-penganutnya. Adapun
saudara – saudara mudanya ialah syarif abdurachim, syarif khafi, dan syarifah
yang mengikiuti tingkah laku saudara tuanya. Antara dua bulan lamanya Syarif
abdurahman tidak makan dan tidak tidur karena sedang majnun bilahi Ta’ala(
cinta rindu kepada Allah SWT).
Pada suatu hari kanjeng sultan Sulaiman
berjumpa dengan pejabat-pejabat pemerintahan, semua pejabat itu pun berkumpul
bersama tiga putra lelakinya. Adapun syarif Abdurahman melakukan sesuatu yang
tidak wajar atau lumrah, dan kanjeng sultan pun berkata kepada Abdurahman tinggalkan lah kebiasaan
burukmu itu, yang suka bertentangan dengan syariat islam, karena aku menjabat
sebagi sultan penetap panata agama (
sultan yang bekuasa atas agama dan politisi), dan syarif pun tidak mematuhi
perintah ayahnya, bahkan Syarif Abdurahman makin menjadi ulahnya ituyang tidak
wajar.
Oleh karena itu sultan pun sangat marah,
akhirnya Syarif Abdurahman pun di usir dari tanah irak. Lalu syekh
Juned berkata kepada Syarif Abdurahman, janganlah engkau pergi berkelana
ke lain Negara, menujulah ke pulau jawa dan bermukimlah di Cirebon. Bergurulah
kepada syekh nurjati yang berada di gunung jati, dan engkau jangan sungkan dan
ragu, apa yang aku wejangkan sebagai guru engkau dan ilmu engkau akan sempurna
kemudian Syarif Abdurahman pun mematuhi perintah gurunya itu, ia pun berpamitan
untuk meneruskan perjalananya, dan tibalah ia di sebuah pinggir pantai
Singkat cerita setelah bertemu dan
berguru pada sunan gunung jati akhirnya
syarif abdurahman yang menjadi pemimpin memberikan barang-barang keramik dari
tanah liat atau sering di sebut anjun dari situlah disebut sebagai pangeran
panjunan dan pemukimanya pun di beri nama dukuh panjunan pada tahun 1464 M, dan
d panjunan pula di dirikan sebuah masjid yang di beri nama masjid merah
panjunan sekitar.
Hasil Observasi ke Masjid Panjunan
Arkeologi, berasal dari bahasa Yunani, archaeo
yang berarti "kuna" dan logos, "ilmu". Nama alternatif
arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan material. Arkeologi adalah ilmu yang
mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data
bendawi yang ditinggalkan. Maka arkeologi
islam adalah ilmu yang mempelajari
kebudayaan (manusia) masa lalu melalui sistematis atas data bendawi yang di
tinggalkan oleh umat islam pada masa dahulu .
Masjid panjunan yang konon dibikin hanya
dalam waktu semalam ini lebih mirip surau karena ukurannya kecil. Kemeriahan
memuncak pada Ramadhan, ketika orang, baik dari dalam maupun luar kota, berburu
takjil, hidangan buka puasa, berupa gahwa alias kopi jahe khas Arab.
Perpaduan Arab dan Tiongkok ini tak lain
terjadi karena Cirebon, yang pernah bernama Caruban pada masa silam, adalah
kota pelabuhan. Lantaran lokasi masjid itu di kawasan perdagangan, sungguh tak
aneh jika Masjid Merah—semula mushala Al-Athyah— tumbuh dengan berbagai
pengaruh, seperti juga semua keraton yang ada di Cirebon.
Bangunan lama mushala itu berukuran 40 meter
persegi saja, kemudian dibangun menjadi berukuran 150 meter persegi karena
menjadi masjid. Pada tahun 1949, Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati)
membangun pagar Kutaosod dari bata merah setebal 40 cm dengan tinggi 1,5 m untuk
mengelilingi kawasan masjid.
Inilah
bebrapa perbincangan saya dengan bapak toto selaku anggota dkm , yang mewakili
dari ketua dkm, yang pada saat itu sedang tidak ada di tempat beliau ada
dipekalongan beliau bernama bapak habib Abdurahman.
Secara fisik masjid ini sangat unik, masjid yang berada di daerah
panjunan ini, pada tahun 1480an ini yang
di dominasi dengan warna merah mempunyai suatu
ragam hiasa yang
Tampak muka Masjid Merah Panjunan yang terbuat dari susunan batu bata merah
yang pintu gapuranya memperlihatkan pengaruh Hindu dari jaman Majapahit yang
banyak bertebaran di daerah Cirebon, bukan
hanya terpengaruhi oleh budha , masjid ini juga di pengaruhi gaya tiongkok dan arab.
Masjid ini, berdenah bujur sangkar, terdapat pendopo,
tiang utama terdiri dari empat s yang menarik pada
pilar Masjid Merah Panjunan adalah bentuk pilar bulat dengan umpak yang juga
berbentuk bulat hanya terdapat di baris depan, yang tampaknya berfungsi sebagai
Soko Guru, yang pada kebanyakan bangunan tradisional lain diletakkan dalam posisi segi
empat. Pilar kayu lainnya berbentuk segi empat sebagaimana bentuk umpaknya.,
ruang utama masjid sendiri hanya dipakai untuk sholat lima waktu dan menurut
bapak Toto sendiri masjid ini tidak di gunakan untuk sholat jumat karena untuk
menjaga kesakralan,selain itu masjid merah panjunan ini di gunakan oleh para
wali untuk berkordinasi dalam mensyiarkan agama islam di Cirebon dan
sekitarnya. Antara ruang utama dan pendop di batasi oleh dinding-dinding yang
berhias timbul dan pilar-pilarnya dengan piringan kramik dari tiongkok ,yang menurut cerita pa toto bahwa
keramik Tiongkok itu merupakan bagian dari hadiah kaisar China ketika Sunan
Gunung Jati menikahi putri sang kaisar yang bernama Tan Hong Tien Nio(liong
tin) ujar beliau. Akan tetapi mirisnya
keramik-keramik yang ada di tembok pagar ada yang sudah dicukil oleh
orang-orang yang tidak bertanggung jawab, terutama yang ada pada bagian pagar
temboknya.di masjid ini juga, tidak
ada tulisan kaligrafi Arab indah yang berbunyi Allah dan Muhammad di tembok
kiri dan kanan depan Masjid Merah Panjunan, sebagaimana banyak dijumpai pada
bangunan masjid lain. Di Masjid Merah Panjunan, tulisan itu terdapat di bagian
atas mihrab di dalam sebuah kotak kecil berbentuk wajik
Masjid ini beratapkan atau genteng dari
sirap,adapun masjid ini mengalami pengembangan menara dimana dulu ada menara
yang sekarang diubah menjadi tempat bedug dan di belakang tempat bedug juga
terdapat sebuah makam yang menurut pak toto menyakini bahwa itu merupakan makam peralatan
yang pada waktu itu untuk membangun masjid yang berada di sebelah kiri ruang
utama, selain menara, tempat wuduh pun telah di kembangkan yang tadinya masih menggunakan seperti kolam , tapi sekarang menggunakan
keran., di ruangan yang tertutup itu juga terdapa suatu mimbar yang tertutup kain putih seperti kafan,
dan pada kesempatan itu saya tidak bisa mengabadikannya karena kunci yang tidak
ada di bawa oleh bapak Abdurahman,
Akulturasi budaya
Dalam berbagai tulisan
sejarah, dijelaskan bahwa proses akulturasi di Indonesia sudah terjadi semenjak
masa pra-Islam, yaitu Buddha dan Hindu. Agama Hindu datang ke Indonesia dibawa
oleh bangsa India. Setelah itu, datanglah agama Islam. Agama-agama tersebut
kemudian bertemu dan mengadakan kontak secara terus-menerus. Akhirnya,
terjadilah akulturasi di antara ketiga agama tersebut.
Wujud akulturasi tersebut dapat dilihat
dari unsur budaya yang ada pada arsitektur Masjid Merah Panjunan. Unsur budaya
Islam terlihat dari fisik dan fungsi masjid, terlihat pada mimbar, mihrab,
tempat wudhu, dan beberapa ragam hias kaligrafi yang terlihat di tiang dan
blandar.
Unsur budaya Jawa terlihat pada
arsitektur masjid ini, yaitu dengan adanya tajug dan limasan. Sementara itu,
pengaruh dari China adalah penggunaan beberapa keramik produksi Tiongkok untuk
hiasan tempel, dan penggunaan bahan sirap seperti pada bangunan khas
China. Makna-makna filosofis dan
simbol-simbol di Masjid Merah Panjunan merupakan pengaruh Hindu. Tentu saja
kemudian makna filosofis dan simbol itu disesuaikan dengan ajaran Islam.
Inilah bebrapa gambar dari masjid
panjunan yang di photo dengan kamera hp tampak luar dan dalam


Masjid panjunan yang Nampak dari
depan ruang utama masjid
panjunan

Tugu depan masjid panjunan yang
di pengaruhi oleh gaya budha
Bab III
Penutup
Kesimpulan
Dari sejarah dan observasi langsung ke
tempat maka dapat di simpulkan bahwa masjid merah panjunan yang berada di desa
lemah wungkuk kab Cirebon ini, merupakan salah satu bangunan kuno di Indonesia
yang mash ada hingga kini, masjid ini merupakan salah satu masjid tertua juga
di Cirebon yang di dirikan oleh syekh
Abdurahman salah seorang kaka ipar dari
sunan gunung jati. Masjid ini juga mempunyai keunikan tersediri dimana seluruh
bangunanya di dominasi dengan warna merah, sehingga masjis ini dikenal juga
masjid merah panjunan , nama panjunan sendri berasal dari anjun yang artinya
barang-barang yang terbuat dari tanah liat.
Daftar pustaka
www. Arkeologi masjid
panjunan.com
Inilah bebrapa gambar piringan yang saya ambil dengan kamera hp saya 











Bab I
Pendahulaun
Latar belakang
Sebuah situs akan berguna bagi sejarah
apabila situs itu bisa di abadikan, dan mempunyai sesuatu nilai dan cirri-ciri
tertentu adapun kali ini saya akan mencoba mengobservasi sala satu situs
bangunan di Indonesia yang sudah tua atau kuno yaitu masjid merah panjuna yang
di dirikan oleh salah satu kaka ipar dari sunan Gunung Jati. Yang sampai
sekarang masih berdiri kokoh dan masih asli hanya beberapa yang mengalami
pengembangan demi menjaga keutuhan masjid itu sendiri.
Masjid yang bangunanya bergaya atau
terpengaruh gaya dari tiongkok ini, sering kita kenal dengan masjid merah
panjunan dimana setiap arsitekturnya itu sendiri banyak menggunakan warna merah
dan berada di desa panjunan kec Cirebon ini. Nama panjunan sendiri mempunyai
makna yang artinya branag- barang yant terbuat dari tanah liat.
Tujuan
Tujuan membuat makalah ini yaitu kita
sebagai generasi penerus supaya tahu bagaiman sejarah dan arkeologinya itu
sendri, dengan cara kita mengobservasi lagsung pada tempatnya dan bertemu
dengan narasumber nya untuk minta keterangan tentang situs atau tempat tersebut
bagaimana sejarah dan fisik bangunanya itu sendri.
Rumusan masalah
Bagaimana tata letak sejak
berdirinya,
Apakah mengalami perubahan atau
tidak
Arsitekturnya terbuat dari apa
dan meniru gaya apa ragam hiasnya.
Bedug dan makam di sebelah kiri
ruangan utama masjid
Pengimaman masjid merah panjunan
yang di hiasi dengan piringan- piringan dari tiongkok dan terlihat ragam hias
yang seperti sayap.

