BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penulisan sejarah (historigrafi)
membutuhkan sumber yang bergama, dan pengetahuan yang bermacam-macam. ia juga
dibuthkan perhitungan yang tepat, dan ketekunan. Kedua sifat ini membawa
sejarawan pada kebenaran, dan menyelamatkan mereka dari ketergelinciran dan
kesalahan,kali ini pemakalh akan mebahas tentang historiografi pada masa
penulisan awal diman terdiri dari bebarapa pembahasan yang di antaranya tentang
dinasti, biografi dan al ansab.
Rumusan Masalah
Pada rumusan makalh ini pemakalah
ingin mencoba membuat seatu pertanyaan yang mendasri dari historiografi
penulisan awal di antaranya :
Bagaimana penulisan awal
historiografi pada masa islam kelasik diantaranya khabar dan analitik?
Apa yang di maksud biografi,dinasti
dan al-Ansab pada masa historiografi penulisan awal islam klasik?
Tujuan
Dari pembahasan makalah yang
berjudul historiografi penulisan awal islam klasik, pemakalah bermaksud ingin
mengetahi historiografi penulisan islam klasik.supaya menabah khaanah keilmuan
kita dalam bidang khususnon mata kuliah historiografi islam
BAB II
Historiografi Awal Islam Dinasti,
Biografi,dan Al-Ansab
Bentuk dasar
berposisi sebagai karakter awal penulisan sejarah dalam tradisi Islam.
Bentuk-bentuk ini merupakan kerangka penulisan sejarah yang berisi kisah-kisah,
syair-syair dan bait puisi. Pendapat umum para peneliti historiografi tentang
beberapa genre awal penulisan sejarah di kalangan Islam dan Arab, adalah
meliputi khabar, annalistik (kronologis), catatan dinasti, thabaqat
dan nasab.[1]
Khabar
Khabar biasa diartikan sebagai ‘laporan’, ‘kejadian’ atau
‘cerita’. Biasanya lebih banyak berisi tentang cerita-cerita peperangan dan
kepahlawanan. Karakteristik khabar ditekankan dengan garis sanad
yang mendahului tiap-tiap khabar, dan hal itu akan dihilangkan bila
menginginkan keringkasan khabar itu atau sekedar menyingkirkan munculnya
kecermatan pengetahuan.
Dalam khazanah
historiografi, dapat disimpulkan tiga ciri khabar. Pertama, dalam
khabar tidak terdapat hubungan sebab akibat antara dua atau lebih
peristiwa. Tiap-tiap khabar sudah melengkapi dirinya sendiri dan tidak
membutuhkan referensi pendukung.
Kedua, sesuai dengan ciri khasnya yang berakar jauh sebelum
Islam, cerita-cerita perang dalam bentuk khabar tetap mempergunakan
cerita pendek, memilih situasi dan peristiwa yang disenangi dan kadang
menyalahi kejadian yang sebenarnya. Peristiwa selalu disajikan dalam bentuk
dialog antar pelaku sehingga memudahkan ahli sejarah dalam melakukan pembacaan
dan analisa.
Ketiga, bentuk khabar cukup bervariasi, sebagai cerita
pertempuran yang terus-menerus dan sebagai suatu ekspresi yang artistik, khabar
juga disajikan dalam bentuk puisi serta syair-syair. Banyak sedikitnya syair
tergantung kemauan dan ekspresi psikologis penulis.
Terdapat
pertanyaan yang agak mengganjal tentang kapan karya pertama berbentuk khabar
ada dalam penulisan sejarah yang dilakukan oleh orang Islam. Literatur Islam
permulaan tidak menyediakan jawaban, sementara sumber-sumber bibliografi dan
kutipan penulis kontemporer juga tidak membantu. Dengan demikian terjadi jurang
pemisah antara literatur Arab yang asli dengan organisasi penerbit buku-buku
Islam.
Bentuk khabar
di dalam berbagai ragamnya terdapat pula dalam sejarah Muslim, walaupun mereka
membatasi kepada catatan peristiwa-peristiwa saja atau menulis nama-nama tanpa
ada penjelasan lanjut. Sebagaimana bentuk-bentuk dasar lainnya, jarang sekali
muncul apa yang disebut bentuk murni. Biasanya selalu dikombinasikan dengan
unsur-unsur lain dalam penulisan sejarah. Sehingga, sebagai misal, dalam
menyajikan biografi Nabi Muhammad sudah dilengkapi dengan nasab
(silsilah) dan informasi lain seperti daftar nama sahabat yang berjasa dan
dikenang dalam perjuangannya.
Ilmuwan sejarah
yang menulis dalam bentuk khabar ini diantaranya adalah: Abu Mihnaf Luth
Ibn Yahya (w. 774 M) dan al-Haitsam Ibn ‘Adi (w. 821 M) yang karyanya berupa
kumpulan monograf dalam bentuk khabar dan nasab. Juga terdapat
nama ‘Ali Ibn Muhammad al-Madaini (w. 831 M) yang salah satu karyanya berjudul Al-Murdifat
min Quraisy (Wanita Quraisy yang Poliandri).
Selanjutnya, pada
tahun-tahun kehidupan penulis itu pula historiografi dalam bentuk khabar
sebagai bentuk yang berdiri sendiri dalam sejarah mulai berakhir, bentuk
selanjutnya mengarah pada kronologi.
Analitik
Analitik berasal
dari kata dasar anno (tahun). Historiografi dalam bentuk analitik
merupakan bentuk khusus penulisan sejarah dengan menggunakan kronologis, yaitu
pencantuman kejadian tiap tahun. Biasanya dimulai dengan kalimat “dalam tahun
pertama” atau “ketika masuk tahun kesembilan”. Penyajian dalam bentuk ini
sepenuhnya berkembang pada masa al-Thabari (wafat 310 H). Karya sejarah permulaan
terbit pada dasawarsa pertama abad ke-10 M dan diteruskan sampai tahun 915 M.
Al-Thabari bernama
lengkap Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid al-Thabari al-‘Amuli, adalah
seorang penulis sejarah yang terkemuka. Namun pada masanya beliau lebih dikenal
sebagai ahli fiqih, bahkan Ibn Nadhim menyejajarkannya dengan imam Malik dan
Syafi’i. Dalam perjalanan hidupnya, banyak kitab yang telah dikarang, seperti Tarikh
al-Umam wa al-Muluk, Adab al-Manasik, Adab al-Nufus dan Tahdzib Atsar.
Yang masih diperdebatkan adalah tentang afiliasi politik al-Thabari terhadap
Syi’ah Rafidhah.
Namun, sebelum
al-Thabari juga telah berkembang penulisan dalam bentuk analitik, misalnya: (1)
Sejarah Khalifah Ibn Hayyat yang ditulis sampai tahun 847 M sebagai
bentuk analitik yang memulai uraiannya mengenai arti tarikh dan uraian
singkat mengenai sirah nabawiyah, (2) Kitab sejarah dari Ya’qub ibn
Sufyan (wafat 891 M) yang ditulis berdasar urutan tahun dengan beberapa
kutipan. (3) Sejarah dari Ibn Abi Haitsamah (wafat 893 M).
Mu’in Umar
menjelaskan, secara teori penulis-penulis muslim lebih dahulu berkenalan dengan
penggunaan data sejarah dan sejak diperkenalkan tahun Hijriyah, mereka sampai
pada kesimpulan bahwa bentuk analitik merupakan cara yang sangat menyenangkan
dalam penyajian sejarah. Karena kepraktisan dan muatan isi penulisan yang lebih
padat. Mungkin itu yang dijadikan alasan.
Contoh bentuk
analitik ini, di antaranya ditunjukkan oleh Ibn Hajar yang berjudul al-Durar
al-Kaminah fi A’yan al-Miati al-Saminah yang menyajikan biografi
tokoh-tokoh terkemuka, termasuk guru-gurunya yang disusun menurut hijaiyah yang
terdiri dari dua bagian, pertama disajikan menurut riwayah dan kedua
dengan cara dirayah, sesuai tahun mereka meninggal.
Penulisan bentuk
analitik, awalnya menggunakan klasifikasi tahun, sementara penyebutan bulan
sangat sedikit. Terjadi pengecilan scope(lapangan) lintasan waktu, pada abad 14 dan 15 pasca Kristus,
pengecilan itu mencapai hitungan bulan dan hari. Sedangkan kristalisasi
historiografi seratustahunan (seabad) berlaku sampai akhir abad ke-13 masehi.
Untuk pertama kali, perkataan “qarn” (abad) muncul dalam judul yang
berhubungan dengan abad itu, misalnya karya Ibn al-Fuwaithi dan Lisanuddin ibn
al-Khatib.[2]
Catatan Dinasti
Tidak ada
penulisan sejarah di masa lalu yang dapat lepas dari intervensi penguasa.
Hampir seluruh catatan sejarah adalah cerita tentang kekuasaan, kemenangan
perang dan kepahlawanan sang pendiri dinasti serta anak cucunya. Bahkan banyak
terdapat biografi-biografi khusus yang menulis tentang raja-raja itu. Misalnya
karya al-Qudla’i yang berjudul ‘Uyun al-Ma’arif. Maka tidak heran jika
muncul adagium bahwa sesungguhnya sejarah adalah milik penguasa. Rakyat kecil
maupun bawahan hanya menjadi footnote (catatan kaki) yang kadang malah
tidak tertulis sama sekali. Namun, bagaimanapun, biografi dinasti dan
penguasanya merupakan sebuah bentuk dasar historiografi Islam.
Perkataan “daulah”
yang berarti peredaran dan pergiliran sebetulnya menjadi dasar kultural linguistik
bagi penulisan model historiografi dinasti ini. Teori penggantian penguasa
seperti pada masa al-Kindi, mengisyaratkan hal itu. Selain juga terdapat
pengaruh yang besar dari budaya intelektual Persia dan Syiah.
Model penulisannya
adalah menurut pergantian kekuasaan khalifah secara berurutan. Misalnya seperti
Sinan ibn Tsabit yang terlebih dahulu menguraikan khalifah al-Mu’tadlid yang
semasa dengannya baru kemudian menguraikan khalifah sebelumnya. Contoh biografi
raja yang komprehensif adalah karya al-Haitsan ibn ‘Adi dan al-Madaini yang
berjudul Biografi Mu’awiyah dan Bani Umayyah pada pertengahan
abad kedua hijriyah (lk. 767 M).
Susunan dunasti
dalam sejarah Islam sama halnya dengan penyajian sejarah pra Islam yang ditulis
oleh penulis-penulis muslim dalam bentuk bangsa-bangsa dan dinasti-dinasti.
Uraian mengenai sejarah pra Islam pada umumnya mendapat kesulitan, karena orang
Islam tidak pernah menemukan sistem penentuan waktu untuk periode pra Islam,
seperti waktu Sebelum Masehi (SM) yang biasa dipergunakan oleh penulis-penulis
Barat.
Untuk penulisan
sejarah dinasti pra Islam, penulis Arab mendapat kontribusi berarti dari
khazanah Yunani, Byzantium dan Persia. Terdapat juga sedikit tambahan dari
India dan Cina, namun penerjemahan itu kurang begitu lancar sebab jiwa
nasionalisme yang kuat dari sejarawan kala itu macam al-Dinawari dan Miskawayh.
Thabaqat
Thabaqat berarti lapisan. Transisi masyarakat dari satu lapisan
atau kelas dalam penggantian kronologis generasi mudah dilakukan. Sebagaimana qarn
yang mendahului arti thabaqat, yang dalam penggunaannya berarti
generasi. Ahli-ahli leksikografi mencoba menetapkan ukuran panjang yang pasti
dari thabaqat. Sebagian mereka menentukan suatu lapisan generasi itu 20
tahun sedang lainnya 40 tahun. Ada juga yang berpendapat thabaqat itu 10
tahun.
Menurut penulis, thabaqat
lebih mirip klasifikasi penulisan sejarah berdasarkan pada “batasan waktu”
hidupnya. Dalam sepuluh tahun pertama, misalnya, terdapat tokoh-tokoh dengan
kesamaan orientasi dan budaya intelektual. Maka jadilah klasifikasi sedemikian
rupa yang selanjutnya ini menjadi metode tersendiri.
Dalam tradisi
Islam sendiri, thabaqat merupakan sesuatu yang amat lazim. Terutama jika
merujuk pada sejarah Muhammad; dalam lingkaran dan lintasan waktu perkembangan
agama Islam, terdapat lapisan shahabat, tab’in, tabi’ al-tabi’in dan
seterusnya. Hal ini berhubungan dengan kritik isnad dalam ‘ulum
al-hadits.
Pada mulanya,
sebagai contoh dalam karya ibn Sa’ad, penyusunan thabaqat dipergunakan
sebagai biografi para penguasa yang penting dalam pemindahan hadits. Dalam
sejarah lokal, semacam karya Washal Sejarah Wasith di dalamnya hanya
dibatasi para perawi hadits. Kemudian dapat dipergunakan untuk kelas-kelas
kelompok pribadi terutama yang tergolong ulama. Selanjutnya juga digunakan
untuk klasifikasi kejadian-kejadian sebagaimana yang terdapat dalam kitab
al-Dzahabi yang berjudul Tarikh al-Islam wa Thabaqati Masyahir al-‘Alam.
Yang penting dalam
karya thabaqat ini ialah untuk memperoleh suatu gambaran yang nyata
tentang apa yang sebenarnya harus dicari dan diteliti. Dalam karya Abu Ishaq
yang berjudul Thabaqat al-Fuqaha’ seseorang menginginkan sebanyak
mungkin informasi, sehingga memungkinkan mereka untuk mendapatkan biografi
tokoh dalam suatu wilayah dan lokasi.
Cara alfabetis
penyusunan biografi ini banyak memberikan kemudahan bagi generasi selanjutnya.
Dalam kitab al-Dibaj yang disusun oleh Ibn Farhun (abad 14 M),
ulama-ulama Malikiyah diuraikan sesuai nama mereka, dan ini dibagi lagi ke
dalam thabaqat kemudian thabaqat disusun menurut geografis.
Nasab
Nasab adalah catatan silsilah keluarga. Bagi orang Arab,
menjaga jalur keturunan, terutama bagi yang mempunyai nenek moyang tokoh
terhormat menyebabkan mereka harus menuliskannya. Keuntungan posisi dan status
sosial ekonomi kadang membuat orang menyalahgunakan nasab ini. Nasab,
kemudian menjadi bentuk dasar bagi historiografi Islam.
Selama abad
kedelapan dan sembilan masehi, para ahli filsafat sejarah kuno, pada saat yang
bersamaan juga merupakan ahli dalam bidang garis keturunan. Karya-karya mereka
merupakan bentuk khabar yang berisi kumpulan berbagai kelompok kabilah
(suku). Salah satu monograf yang berkenaan dengan garis keturunan yang
mula-mula sekali adalah Kitab Hadzfu min Nasab Quraisy mengenai keluarga
kecil suku Quraisy tanpa nabi Muhammad yang disusun oleh Mu’arrij ibn ‘Amr
al-Sadusi. Selain itu terdapat nama al-Zubair ibn Abu Bakkar (w. 870 M) yang
menulis kitab berjudul Nasab Quraisy, walaupun kitab ini lebih banyak
membahas budi pekerti orang Quraisy daripada pohon keluarganya. Sebuah kitab
dari al-Baladzuri berupa biografi tokoh berjudul Kitab al-Ansab
didominasi biografi khalifah. Bentuknya adalah khabar dan historiografi
dinasti.
Bentuk penulisan
nasab ini ada dua. Penulis bermadzhab Syi’ah, Tajuddin ibn Muhammad dalam
pengantarnya untuk kitab Ghayat al-Ikhtishar fi Akhbari al-Buyutati
al-‘Alawiyah, memasukkan dua macam penyajian untuk informasi garis
keturunan, yaitu bentuk pohon dan bentuk mabsuth.
Sebenarnya,
orang-orang Arab sejak masa lalu telah terbiasa membuat jalur keturunannya
sendiri, dan ini merupakan cabang ilmu pengetahuan yang khusus dan seringkali
dihubungkan dengan syair. Kebanggaan keluarga, sangat tergantung pada apa yang
telah dilakukan nenek moyangnya dalam peristiwa ayyam al-A’rab (perang
antara kabilah Arab) maupun peristiwa lain dan itu disusun dalam bentuk syair
Seorang sejarawan muslim India, Nizar Ahmed Faruqi dalam
disertasinya berjudul Early Muslim Historiography (1979) menyatakan
bahwa nasab merupakan satu-satunya sumber bagi penyusunan historiografi
Islam, dengan mengambil dasar dari al-Quran surat al-Hujurât [49] ayat
13.[3]
BIOGRAFI
Biografui
merupakan bentuk yang bertahan lama di dalam ekspresi sejarah hal ini dapat di
simpulkan dari kejadian-kejadian yang lalu, yang dapat dia ambil dari
naskah-naskah kerajaan atau kesultanan
yang berisi mengenai tingkah laku pribadi mereka pada zamannya.
Biografi
sudah merupakan suatu bagian di dalam historiografi islam semenjak permulanya, bahkan menempati posisi
yang dominan. Di dalam masyarakat islam ada beberapa factor yang menyebabkan
diantaranya:
a)
Biografi nabi Muhammad SAW merupakan
sumber utama bagi pembangunan masyarakat islam
b)
Meriwayatkan kehidupan Nabi Muhamaad SAW secara terinci tergantung pada perawi
secara individual, dan apakah riwayatnya itu dapat di terima atau di tolak tergantung pada data kehidupan
perawi tersebut.
c)
Perjuangan dalam menegakan islam sebagian besar ditunjukan , oleh
keunggulan-keunggulan pribadi pemimpinya, yang telah sangat berjasa di dalam
perjuanganya.
Dalam
hal ini sirah merupakan fase yang sangat penting dalam pertumbuhan dan
pekembangan historiografi islam[4].
akan tetapi, asma’al-rijal yang secara umum membahas tentang biografi para
sahabat, tabiun dan tabi al tabi’in. secara harfiah Asma al- Rijal merupakan
nama-nama para tokoh.[5]
prosedur
yang normal penulis-penulis biografi memulai dari kelhiran dari subjek yang di
tulisnya dan di akihiri dengan kewafatanya ,ini hal yang sudah biasa dalam
historiografi islam, dalam hal ini terlihat dalam kitab Tarikh Baghdad yang di
susun oleh Khatib al-Baghdadi dimana tanggal kelahiran dan kematian di sebutkan
masing-masingnya di dalam permulaan penulisan biografi
sebagai
karya yang berdiri sendiri biografi di terbitkan dalam jumlah yang banyak,
dimulai dari biografi nabi Muhammad SAW, ketika kegiatan penerbitan sudah mulai
di dunia islam, karya-karya permulaan mengenai keturunan Ali bin Abi Thalib
seperti Husain dan Zaid ibn Ali bila di lihat dari judulnya terutama tidak
berkenaan dengan biografi kepahlawanan mereka, tetapi lebih banyal
menceritakannya sesuai syuhada (saksi kebenaran dalam islam) yang meninggal di
medan perang.sebagai yang layak mempimpin umatnya sehingga secara historis
peristiwa-peristiwa yang di hadapinya lebih berarti di dalam kehidupanya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari makalah di atas,yang
berjudl historiografi islam klasik
dinasti, biografi dan al-ansab dapat disimpulakan bahwa ada beberapa macam
penulisan pada masa awal islam klaisk yaitu
Khabar yang biasa diartikan sebagai ‘laporan’, ‘kejadian’ atau ‘cerita’. Biasanya lebih
banyak berisi tentang cerita-cerita peperangan dan kepahlawanan. Dan Analitik berasal
dari kata dasar anno (tahun). Historiografi dalam bentuk analitik
merupakan bentuk khusus penulisan sejarah dengan menggunakan kronologis, yaitu
pencantuman kejadian tiap tahun selain pemakalah menjelskan kedua
penulisan awal islam klasik pemakalh juga menjelaskan tentang harfiah penulisan historiografi dinasti,biografi dan
al-ansab.
Daftar
Pustaka
Azra Azyumardi,2002. Historiografi
islam kontemporer,Jakarta:Pustaka Utama