Senin, 26 Maret 2012

makalah filologi di kawasan asia dan india


oleh Ibas_wascam dan kawan-kawan
Bab II
Filologi Di Kawasan Asia dan India
Sejak beberapa abad sebelum Masehi, bangsa Asia telah memiliki peradaban yang tinggi. Sejak mengenal huruf, sebagian besar kebudayaan mereka ditulis dalam bentuk naskah yang member banyak informasi mengenai kehidupan mereka di masa lampau.

Diantara bangsa Asia yang dipandang memiliki dokumen masa lampau adalah India. Penelitian terhadap India menunjukkan adanya kontak secara langsung dengan Yunani pada zaman Raja Iskandar Zulkarnain yang melakukan perjalanan sampai India pada abad ke-3. Terlihat adanya perpaduan dengan kebudayaan Yunani pada bentuk patung dan nilai-nilai ilmunya.

Sejak abad ke-1 mulai terjadi kontak langsung bangsa India dengan Cina. Sekelompok pendeta Buddha mengadakan perjalanan dakwah ke Cina, dan sesudah itu musafir Cina berziarah ke tempat-tempat suci agama Buddha di India. Dalam perjalanan itu, mereka sempat menerjemahkan naskah-naskah India ke dalam bahasa Cina. Bahkan ada ringkasan delapan bab ilmu kedokteran India dalam bahasa Cina.

Kontak antara bangsa India dengan Timur Tengah mungkin terjadi sejak awal sebelum bertemu dengan bangsa lain. Kemungkinan ini sangat kuat mengingat letak geografis kedua kebudayaan besar ini berdekatan tanpa terbatas kondisi alam tertentu. Sayangnya belum didapati keterangan yang memadai dari sedikit dokumen yang menunjukkan kontak antara keduanya. Hanya terdapat terjemahan naskah India ke dalam bahasa Persi dan catatan musafir Arab-Persi mengenai beberapa aspek kebudayaan India dalam kunjungannya ke tempat tersebut.
Naskah India yang dipandang paling tua berupa kesusastraan Weda, ialah kitab suci agama Hindu yang disusun mungkin pada abad ke-6 s.M. Setelah periode Weda disusunlah naskah-naskah kitab suci lain. Selain naskah dengan nilai agama dan filsafat, ada uga naskah lama India yang berisi wiracarita misalnya Mahabarata dan Ramayana serta karya yang berisi ilmu pengetahuan seperti ilmu kedokteran, tatabahasa, hukum, dan politik.

Telaah Filologi terhadap naskah-naskah India baru dilakukan setelah adanya kontak dengan bangsa Barat, yaitu setelah ditemukannya jalan laut ke India. Proses mengenal kubudayaan India bertahap, mulai dari bahasa daerah, bahasa Sansekerta, baru kemudian ditemukan kitab Weda. Sejak itu lah kegiatan filologi terhadap naskah India semakin berkembang dan membuahkan hasil yang sangat berarti seperti berbagai kamus dan tatabahasa Sansekerta .
Naskah-naskah India
Naskah-naskah bangsa india yang di pandang paling tua adalah kasatraan weda yaitu kitab suci agama hindu, yang mengandung empat bagian diantaranya: regweda, samaweda, yajurweda dan atarwa weda.yang dui susun munkin pada abad ke 6SM. Adapun isi dari kita weda itu sendiri menceritakan tentang keprcayaan kepada dewa, penyembahan terhadap mereka secara ritual ,mantra-mantra yang mengiringi upacara keagamaan hindu, dan ilmu sihir. Setalah periode weda selesai maka disusun naskah-naskah lain yang berisi kitab suci brhamana, kitab aranyaka dan kitab upanisad, dalam kitab brahmana menjlaskan tentang penciptaan dunia dan isinya, cerita para dewa, serta cerita mengenai persajian. Kitab aranyaka menjlaskan tentang petunujk bagi petapa, yang menjalani kehidupan dalam hutan-hutan.dan isi kitab upanisad menceritakan masalah filsafat yang memikirkan rahasia dunia.
Selain naskah-naskah yang di sebutkan di atas, yang menceritakan kepercayaan dan filsafat, naskah-naskah lama india juga berisi wiracarita, misalanya mahabrata dan Ramayana:karya tulis para kawya seperti: Harsacarita gubahan penyair bana, Buddhacarita gubahan aswagosa.cerita binatang atau fable seperti pancatantra,cerita drama serta karya-karya ilmu pengetahuan seperti ilmu kedokteran, tatabahasa dll.
Telaah Filologi terhadap Naskah-Naskah India
Pada tahun 1498 india kedatangan bangsa barat yaitu Vasco da Gama. Ia yang menemukan jalan laut ke daratan india,dari situlah naskah-naskah india yang berisikan berbagai aspek kebudayaan baru muli di telaah. Dan awalnya yang mereka kenal adanya bahasa-bahasa daerah seperti: bahasa gujarati, bahasa bangali, pada abad seblum abad ke 19. Dan setlah abad ke 19 baru mengetahu bahasa sansekerta, dan akhir dari abad ke 19 baru di temukan kitab-kitab tentang weda. Hasil dari kajian filologiterhadap naskah-naskah tersebut mulai dipublikasikan oleh orang belanda Abraham Roger yang berjudul open door  hidden heathendom pada tahun 1651. Dia juga pernah tinggal di Madras sebagai penyiar agama nasrani dan karanganya mengenai ajaran kitab suci brahmana dan sebuah ikhtisiar penyair puisi bhratihari. Lalu terbit juga dari orang perancis bernama Bernier1671 dan Tafernier 1677. Mengenai geografi politik ada istiadat serta kepercayaan bangsa india.
Tatabahasa sansekerta pertamakalinya di tulis oleh Hanxleden, seorang pendeta berkebangsaan jerman, dalam bahasa latin,karangan ini di terbitkan di roma oleh seorang penginjil berbangsa Austria bernama fra paolo bratolomeo 1790
Bangsa inggris baru pada abad ke 18 memulai kegiatan filologi di india.diawali hasrat gubernur jendral Warren Hastings menyusun kitab hokum berdasarakan hokum yang di tulis dalam naskah-naskah lama  bangsa india sendiri.lalu di galinya serta di terbitak pada tahun 1776 di londen. Pada tahun 1784 wadah kegiatan filologi bernama the asia society di dirikan di bangal oleh para orientalis inggrisyang pada saat itu sedang bekerja di india.di antaranya ada 3 yang membuat maju kegiatan itu ialah sir Charles wikins,sir William jones dan henry Thomas colebrooke.
Pada awal abad ke 19 alexander Hamilton (berbangsa inggris), friedrich schlegel (jerman), keduanya di pandang ahli yang memajukan studi naskah sansekerta di eropa.pada tahun 1808 friedrich menulis buku berjudul  on the language and wisdom of india dan mendirikan lembaga filologi india-jerman.


Brāhmī ialah nama model yang diberikan kepada ahli-ahli tertua dalam salasilah tulisan India. Catatan-catatan Brāhmī yang paling terkenal merupakan ukiran Titah-Perintah Ashoka di kawasan utara tengah India dari abad ke-3 SM yang dikenali sebagai contoh-contoh terawal tulisan Brāhmī, namun sistem tulisan berkenaan mungkin lebih lama digunakan, seawal-awal abad ke-6 SM. Pada tahun 1837, catatan tersebut berjaya ditafsirkan oleh seorang ahli arkeologi, filologi dan pegawal Syarikat Hindia-Timur British bernama James Prinsep.[2]
Seperti tulisan Kharoṣṭ yang sezaman dengannya yang pernah wujud di kawasan Afghanistan dan Pakistan, Brāhmī merupakan tulisan abugida, iaitu abjad konsonan yang diiringi tanda diakritik sebagai vokal. Huruf-hurufnya disusun mengikut grid (varga) mengikut prinsip fonetik, oleh itu tulisan ini ketika dicipta dikatakan hasil inovatif.[3]
Tulisan ini merupakan nenek moyang bagi kebanyakan tulisan di Asia Selatan, Asia Tenggara, Tibet, dan mungkin juga Hangul Korea. Nombor Brahmi merupakan nenek moyang Nombor Hindu-Arab, yang kini digunakan di seluruh dunia. Susunan abjad Brāhmī juga diterima guna sebagai urutan tulisan kana Jepun, namun huruf-hurufnya pula tiada kaitan langsung.

Asal-usul
Tulisan Brāhmī pernah digunakan untuk menulis loghat-loghat Prakrit awal. Penggunaannya terhad kepada catatan pada binaan, batu nisan dan juga kitab suci. Pada mulanya Bahasa Sanskrit tiada sistem tulisan sendiri sehingga berabad-abad kemudian. Oleh itu, tulisan Brāhmī tidak sesuai sepenuhnya untuk menulis bahasa Sanskrit, memandangkan beberapa bunyi dalam bahasa Sanskrit tiada padanan dalam tulisan Brāhmī.
Penemuan terawal tulisan abjad di kawasan Hindukush, khususnya abjad Aramia, terwujid pada abad ke-6 SM melalui peluasan Empayar Achaemenid yang meliputi lembah Indus di bawah pimpinan Raja Darius. Perkembangan sistem tulisan dari abad ke-6 hingga ke-3 SM agak samar-samar.
Adanya pihak yang berhujah bahawa cebis-cebisan epigrafi bertulisan Brāhmī yang ditemui di Sri Lanka dan Tamil Nadu, dipercayai dihasilkan sekitar abad ke-6 hingga ke-5 SM, dijadikan bukti peluasan agama Buddha[5], tetapi bukti-bukti wujudnya catatan Brahmi sebelum zaman Maurya Brahmi masih belum disahkan kerana cuma terdiri daripada cebisan sajak yang mungkin berisi aksara-aksara individu. Oleh itu, catatan-catatan zaman Asoka pada abad ke-3 SM tetap merupakan catatan lengkap terawal yang diketahui kekal, dan begitu juga tulisan Bhattiprolu yang mungkin wujud lebih awal dari zaman Asoka.
Kemungkinan epigrafi pra-Asoka
Antara bahan-bahan dari zaman lebih awal yang dijumpai termasuklah serpihan tembikar dari bandar perdagangan Anuradhapura di Sri Lanka, yang dipercayai dibuat sekitar abad ke-6 hingga ke-4 SM;[6] Bhattiprolu;[7] dan juga pada serpihan tembikar di Adichanallur, Tamil Nadu, yang dikenal pasti berasal dari abad ke-6 SM melalui teknik radiokarbon.[8]
Kaitan dengan tulisan Aramia
Ramai pengkaji mempercayai bahawa tulisan Brāhmī berasal atau dipengaruhi oleh suatu abjad Semitik seperti abjad Aramia, seperti abjad Kharosthi yang wujud di kawasan barat laut India yang pernah ditakluki oleh empayar Achaemenid.
Catatan-catatan Brāhmī terawal memperlihatkan keserupaan yang ketara dengan bahasa Aramia bagi fonem-fonem yang bersamaan antara kedua-dua bahasa, khususnya huruf-huruf yang seolah-olah dibalikkan kerana perubahan arah penulisan. (Bahasa Aramia ditulis dari kanan ke kiri, begitu juga tulisan Brāhmī pada mulanya, tetapi lama-kelamaan tulisan Brāhmī berubah arah iaitu dari kiri ke kanan.) Contohnya, huruf bagi bunyi g dalam abjad Brāhmī dan Aramia g berupa Λ; huruf t pula menyerupai ʎ, dan sebagainya.
Tulisan Brahmi menunjukkan beberapa tambahan berbanding abjad Aramia. Contohnya, abjad Aramia tidak membezakan konsonan plosif gigi dan gelungan; dalam tulisan Brāhmī pula aksara-aksara konsonan gigi dan gelungannya agak serupa bentuknya, seolah-oleh kedua-duanya berasal dari huruf yang sama. Abjad Aramia tiada konsonan berhembusan seperti tulisan Brāhmī (kʰ, tʰ dsb.), manakala tulisan Brāhmī tiada konsonan penegas seperti abjad Aramia (q, , ); nampaknya huruf-huruf penegas Aramia ini dijadikan huruf konsonan berhembusan dalam tulisan brahmi: huruf q Aramia menjadi huruf kh Brāhmīhuruf Aramia (Θ) menjadi huruf th (ʘ) Brāhmī, dsb. Sementara abjad Aramia tiada konsonan penegas bagi p, maka tulisan Brāhmī nampaknya menggandakan aksara p-nya untuk mengisi huruf ph berhembusan. Oleh itu, huruf-huruf p dan ph dalam tulisan Brāhmī amat serupa bentuknya, seolah-olah diambil dari huruf Aramia p yang sama. Huruf pertama kedua-dua abjad i ni juga berpadanan: huruf a Brāhmī yang menyerupai huruf K yang terbalik, amat serupa dengan huruf alef dalam abjad Aramia yang menyerupai huruf א dalam abjad Ibrani. Jadual berikut membandingkan tulisan Brāhmī dengan abjad Phoenicia yang amat menyerupai abjad Aramia kuno.
Kebarangkalian penerbitan tulisan Brahmi dari abjad Phoenicia
Yunani
Α
Β
Γ
Δ
Ε
Υ
Ζ
Η
Θ
Ι
Κ
Λ
Μ
Ν
Ξ
Ο
Π
Ϻ
Ϙ
Ρ
Σ
Τ
Phoenicia
Aleph
Beth
Gimel
Daleth
He
Waw
Zayin
Heth
Teth
Yodh
Kaph
Lamedh
Mem
Nun
Samekh
Ayin
Pe
Sadek
Qoph
Res
Sin
Taw
Brahmi
Brah a.png
Brah b.png
Brah g.png
Brah dh.png
Brah dh1.png
 ?
Brah v.png
Brah d.png
Brah d1.png
 ?
Brah th.png
Brah th1.png
Brah y.png
Brah k.png
Brah c.png
Brah l.png
Brah m.png
Brah n.png
Brah n1.png
Brah sh.png
 ?
Brah p.png
Brah ph.png
Brah s.png
Brah kh.png
Brah ch.png
Brah r.png
Brah s1.png
Brah t.png
Brah t1.png
Devanagari



IAST
a
ba
ga
dha
ha

va
da?
a?

tha
ha
ya
ka
ca
la
ma
na
a
śa*

pa
pha
sa*
kha
cha
ra
a*
ta
a

1 komentar: